Apa itu Lubang
Hitam?
MUNGKIN tidak ada objek astronomi yang sepopuler lubang hitam
(black hole). Di dalam arena diskusi dengan masyarakat luas di setiap
kesempatan, pertanyaan mengenai objek eksotik yang satu ini seakan tidak pernah
lupa untuk dilontarkan. Siapa sangka, istilah yang pertama kali diberikan oleh
John Archibald Wheeler pada 1969 sebagai ganti nama yang terlalu panjang, yaitu
completely gravitational collapsed stars, ini menjadi sedemikian akrab di
kalangan awam sekalipun?
Konsep lubang hitam pertama kali diajukan oleh seorang
matematikawan-astronom berkebangsaan Jerman, Karl Schwarzschild, pada tahun
1916 sebagai solusi eksak dari persamaan medan Einstein (Relativitas Umum).
Penyelesaian berupa persamaan diferensial orde dua nonlinear--yang dihasilkan
Schwarzschild hanya dengan bantuan pensil dan kertas kala itu--sangat memikat
Einstein. Pasalnya, relativitas umum yang bentuk finalnya telah dipaparkan Einstein
di Akademi Prusia pada 25 November 1915, oleh penemunya sendiri
"hanya" berhasil dipecahkan dengan penyelesaian pendekatan. Bahkan
dalam perkiraan Einstein, tidak akan mungkin menemukan solusi eksak dari
persamaan medan temuannya tersebut.
Istilah lubang hitam sendiri menggambarkan kondisi
kelengkungan ruang-waktu di sekitar benda bermassa dengan medan gravitasi yang
sangat kuat. Menurut teori relativitas umum, kehadiran massa akan mendistorsi
ruang dan waktu. Dalam bahasa yang sederhana, kehadiran massa akan
melengkungkan ruang dan waktu di sekitarnya. Ilustrasi yang umum digunakan
untuk mensimulasikan kelengkungan ruang di sekitar benda bermassa dalam
relativitas umum adalah dengan menggunakan lembaran karet sangat elastis untuk
mendeskripsikan ruang 3 dimensi ke dalam ruang 2 dimensi.
Bila kita mencoba menggelindingkan sebuah bola pingpong di
atas hamparan lembaran karet tersebut, bola akan bergerak lurus dengan hanya
memberi sedikit tekanan pada lembaran karet. Sebaliknya, bila kita letakkan
bola biliar yang massanya lebih besar (masif) dibandingkan bola pingpong, akan
kita dapati lembaran karet melengkung dengan cekungan di pusat yang ditempati
oleh bola biliar tersebut. Semakin masif bola yang kita gunakan, akan semakin
besar tekanan yang diberikan dan semakin dalam pula cekungan pusat yang
dihasilkan pada lembaran karet.
Sudah menjadi pengetahuan publik bila gerak Bumi dan
planet-planet lain dalam tata surya mengorbit Matahari sebagai buah kerja dari
gaya gravitasi, sebagaimana yang telah dibuktikan oleh Isaac Newton pada tahun
1687 dalam Principia Mathematica-nya. Melalui persamaan matematika yang
menjelaskan hubungan antara kelengkungan ruang dan distribusi massa di
dalamnya, Einstein ingin memberikan gambaran tentang gravitasi yang berbeda
dengan pendahulunya tersebut. Bila sekarang kita menggulirkan bola yang lebih
ringan di sekitar bola yang masif pada lembaran karet di atas, kita menjumpai
bahwa bola yang ringan tidak lagi mengikuti lintasan lurus sebagaimana yang
seharusnya, melainkan mengikuti kelengkungan ruang yang terbentuk di sekitar
bola yang lebih masif. Cekungan yang dibentuk telah berhasil
"menangkap" benda bergerak lainnya sehingga mengorbit benda pusat
yang lebih masif tersebut. Inilah deskripsi yang sama sekali baru tentang
penjelasan gerak mengorbitnya planet-planet di sekitar Matahari a la
relativitas umum. Dalam kasus lain bila benda bergerak menuju ke pusat
cekungan, benda tersebut tentu akan tertarik ke arah benda pusat. Ini juga
memberi penjelasan tentang fenomena jatuhnya meteoroid ke Matahari, Bumi, atau
planet-planet lainnya.
Radius kritis
Melalui persamaan matematisnya yang berlaku untuk sembarang
benda berbentuk bola sebagai solusi eksak atas persamaan medan Einstein,
Schwarzschild menemukan bahwa terdapat suatu kondisi kritis yang hanya
bergantung pada massa benda tersebut. Bila jari-jari benda tersebut (bintang
misalnya) mencapai suatu harga tertentu, ternyata kelengkungan ruang-waktu
menjadi sedemikian besarnya sehingga tak ada satupun yang dapat lepas dari permukaan
benda tersebut, tak terkecuali cahaya yang memiliki kelajuan 300.000 kilometer
per detik!
Jari-jari kritis tersebut sekarang disebut Jari-jari
Schwarzschild, sementara bintang masif yang mengalami keruntuhan gravitasi
sempurna seperti itu, untuk pertama kalinya dikenal dengan istilah lubang hitam
dalam pertemuan fisika ruang angkasa di Nebanyak ilmuwan kaw York pada tahun
1969.
Untuk menjadi lubang hitam, menurut persamaan Schwarzschild,
Matahari kita yang berjari-jari sekira 700.000 kilometer harus dimampatkan
hingga berjari-jari hanya 3 kilometer saja. Sayangnya, bagi la itu, hasil yang
diperoleh Schwarzschild dipandang tidak lebih sebagai sebuah permainan matematis
tanpa kehadiran makna fisis. Einstein termasuk yang beranggapan demikian. Akan
terbukti belakangan, keadaan ekstrem yang ditunjukkan oleh persamaan
Schwarzschild sekaligus model yang diajukan fisikawan Amerika Robert
Oppenheimer beserta mahasiswanya, Hartland Snyder, pada 1939 yang berangkat
dari perhitungan Schwarzschild berhasil ditunjukkan dalam sebuah simulasi
komputer.
Kelahiran lubang hitam
Bagaimana proses fisika hingga terbentuknya lubang hitam?
Bagi mahasiswa tingkat sarjana di Departemen Astronomi, mereka mempelajari
topik ini di dalam perkuliahan evolusi Bintang. Waktu yang diperlukan kumpulan
materi antarbintang (sebagian besar hidrogen) hingga menjadi "bintang
baru" yang disebut sebagai bintang deret utama (main sequence star), bergantung
pada massa cikal bakal bintang tersebut. Makin besar massanya, makin singkat
pula waktu yang diperlukan untuk menjadi bintang deret utama. Energi yang
dimiliki "calon" bintang ini semata-mata berasal dari pengerutan
gravitasi. Karena pengerutan gravitasi inilah temperatur di pusat bakal bintang
menjadi meninggi.
Dari mana bintang-bintang mendapatkan energi untuk
menghasilkan kalor dan radiasi, pertama kali dipaparkan oleh astronom Inggris
Sir Arthur Stanley Eddington. Sir Eddington juga yang pernah memimpin ekspedisi
gerhana Matahari total ke Pulau Principe di lepas pantai Afrika pada 29 Mei
1919 untuk membuktikan ramalan teori relativitas umum tentang pembelokan cahaya
bintang di dekat Matahari. Meskipun demikian, fisikawan nuklir Hans Bethe-lah
yang pada tahun 1938 berhasil menjelaskan bahwa reaksi fusi nuklir
(penggabungan inti-inti atom) di pusat bintang dapat menghasilkan energi yang
besar. Pada temperatur puluhan juta Kelvin, inti-inti hidrogen (materi
pembentuk bintang) mulai bereaksi membentuk inti helium. Energi yang
dibangkitkan oleh reaksi nuklir ini membuat tekanan radiasi di dalam bintang
dapat menahan pengerutan yang terjadi. Bintang pun kemudian berada dalam
kesetimbangan hidrostatik dan akan bersinar terang dalam waktu jutaan bahkan
milyaran tahun ke depan bergantung pada massa awal yang dimilikinya.
Semakin besar massa awal bintang, semakin cepat laju
pembangkitan energinya sehingga semakin singkat pula waktu yang diperlukan
untuk menghabiskan pasokan bahan bakar nuklirnya. Manakala bahan bakar tersebut
habis, tidak akan ada lagi yang mengimbangi gravitasi, sehingga bintang pun
mengalami keruntuhan kembali.
Nasib akhir sebuah bintang ditentukan oleh kandungan massa
awalnya. Artinya, tidak semua bintang akan mengakhiri hidupnya sebagai lubang
hitam. Untuk bintang-bintang seukuran massa Matahari kita, paling jauh akan
menjadi bintang katai putih (white dwarf) dengan jari-jari lebih kecil daripada
semula, namun dengan kerapatan mencapai 100 hingga 1000 kilogram tiap
centimeter kubiknya! Tekanan elektron terdegenerasi akan menahan keruntuhan
lebih lanjut sehingga bintang kembali setimbang. Karena tidak ada lagi sumber
energi di pusat bintang, bintang katai putih selanjutnya akan mendingin menjadi
bintang katai gelap (black dwarf).
Untuk bintang-bintang dengan massa awal yang lebih besar,
setelah bintang melontarkan bagian terluarnya akan tersisa bagian inti yang
mampat. Jika massa inti yang tersisa tersebut lebih besar daripada 1,4 kali
massa Matahari (massa Matahari: 2x10 pangkat 30 kilogram), gravitasi akan mampu
mengatasi tekanan elektron dan lebih lanjut memampatkan bintang hingga memaksa
elektron bergabung dengan inti atom (proton) membentuk netron. Bila massa yang
dihasilkan ini kurang dari 3 kali massa Matahari, tekanan netron akan
menghentikan pengerutan untuk menghasilkan bintang netron yang stabil dengan
jari-jari hanya belasan kilometer saja. Sebaliknya, bila massa yang dihasilkan
pasca ledakan bintang lebih dari 3 kali massa Matahari, tidak ada yang bisa
menahan pengerutan gravitasi. Bintang akan mengalami keruntuhan gravitasi
sempurna membentuk objek yang kita kenal sebagai lubang hitam. Bila bintang
katai putih dapat dideteksi secara fotografik dan bintang netron dengan
teleskop radio, lubang hitam tidak akan pernah dapat kita lihat secara langsung!
Mengenali lubang hitam
Bila memang lubang hitam tidak akan pernah bisa kita lihat
secara langsung, lantas bagaimana kita bisa meyakini keberadaannya? Untuk
menjawab pertanyaan ini, John Wheeler sebagai tokoh yang mempopulerkan istilah
lubang hitam, memiliki sebuah perumpamaan yang menarik. Bayangkan Anda berada
di sebuah pesta dansa di mana para pria mengenakan tuksedo hitam sementara para
wanita bergaun putih panjang. Mereka berdansa sambil berangkulan, dan karena
redupnya penerangan di dalam ruangan, Anda hanya dapat melihat para wanita
dalam balutan busana putih mereka. Nah, wanita itu ibarat bintang kasat mata
sementara sang pria sebagai lubang hitamnya. Meskipun Anda tidak melihat
pasangan prianya, dari gerakan wanita tersebut Anda dapat merasa yakin bahwa
ada sesuatu yang menahannya untuk tetap berada dalam "orbit dansa".
Demikianlah para astronom dalam mengenali keberadaan sebuah
lubang hitam. Mereka menggunakan metode tak langsung melalui pengamatan bintang
ganda yang beranggotakan bintang kasat mata dan sebuah objek tak tampak.
Beruntung, semesta menyediakan sampel bintang ganda dalam jumlah yang melimpah.
Kenyataan ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, sebab bintang-bintang memang
terbentuk dalam kelompok. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa di galaksi kita,
Bima Sakti, terdapat banyak bintang yang merupakan anggota suatu gugus bintang
ataupun asosiasi.
Telah disebutkan di atas bahwa medan gravitasi lubang hitam
sangat kuat, jauh lebih kuat daripada bintang kompak lainnya seperti bintang “katai
putih” maupun bintang netron. Dalam sebuah sistem bintang ganda berdekatan,
objek yang lebih masif dapat menarik materi dari bintang pasangannya. Demikian
pula dengan lubang hitam. lubang hitam menarik materi dari bintang pasangan dan
membentuk cakram akresi di sekitarnya (bayangkan sebuah donat yang pipih
bentuknya). Bagian dalam dari cakram yang bergerak dengan kelajuan mendekati
kelajuan cahaya, akan melepaskan energi potensial gravitasinya ketika jatuh ke
dalam lubang hitam. Energi yang sedemikian besar diubah menjadi kalor yang akan
memanaskan molekul-molekul gas hingga akhirnya terpancar sinar-X dari cakram
akresi tersebut. Sinar-X yang dihasilkan inilah yang digunakan oleh para
astronom untuk mencurigai keberadaan sebuah lubang hitam dalam suatu sistem
bintang ganda. Untuk lebih meyakinkan bahwa bintang kompak tersebut benar-benar
lubang hitam alih-alih bintang “katai putih” ataupun bintang netron, astronom
menaksir massa objek tersebut dengan perangkat matematika yang disebut fungsi
massa. Bila diperoleh massa bintang kompak lebih dari 3 kali massa Matahari,
besar kemungkinan objek tersebut adalah lubang hitam.
Pertumbuhan
Black Hole
Massa dari lubang hitam terus bertambah dengan cara menangkap semua materi
didekatnya. Semua materi tidak bisa lari dari jeratan lubang hitam jika
melintas terlalu dekat. Jadi obyek yang tidak bisa menjaga jarak yang aman dari
lubang hitam akan tersedot. Berlainan dengan reputasi yang disandangnya saat
ini yang menyatakan bahwa lubang hitam dapat menyedot apa saja disekitarnya,
lubang hitam tidak dapat menyedot material yang jaraknya sangat jauh dari
dirinya. dia hanya bisa menarik materi yang lewat sangat dekat dengannya.
Contoh :
bayangkan matahari kita menjadi lubang hitam dengan massa yang sama. Kegelapan
akan menyelimuti bumi dikarenakan tidak ada pancaran cahaya dari lubang hitam,
tetapi bumi akan tetap mengelilingi lubang hitam itu dengan jarak dan kecepatan
yang sama dengan saat ini dan tidak tersedot masuk kedalamnya. Bahaya akan
mengancam hanya jika bumi kita berjarak 10 mil dari lubang hitam, dimana hal
ini masih jauh dari kenyataan bahwa bumi berjarak 93 juta mil dari matahari.
Lubang hitam juga dapat bertambah massanya dengan cara bertubrukan dengan
lubang hitam yang lain sehingga menjadi satu lubang hitam yang lebih besar.
Cakram
gas
Dengan sifatnya yang tidak bisa dilihat, pertanyaan kemudian adalah bagaimana
mendeteksi adanya suatu lubang hitam? Kesempatan yang paling baik untuk
mendeteksinya, diakui para ahli, adalah bila ia merupakan bintang ganda (dua
bintang yang berevolusi dan saling mengelilingi). Lubang hitam akan menyedot
semua materi dan gas-gas hasil ledakan termonuklir bintang di sekitarnya. Dari
gesekan internal, gas-gas yang tersedot itu akan menjadi sangat panas (hingga 2
juta derajat!) dan memancarkan sinar-X. Dari sinar-X inilah para ahli memulai
langkah untuk menjejak lubang hitam.
Pada
12 Desember 1970, AS meluncurkan satelit astronomi kecil (Small Astronomical
Satellite SAS) pendeteksi sinar-X di kosmis bernama Uhuru dari lepas pantai
Kenya. Dari hasil pengamatannya didapatkan bahwa sebuah bintang maha raksasa
biru, yakni HDE226868 yang terletak dalam konstelasi Cygnus (8.000 tahun cahaya
dari bumi) mempunyai pasangan bintang Cygnus X-1, yang tidak dapat dideteksi
secara langsung.
Cygnus X-1 menampakkan orbitnya berupa gas-gas hasil ledakan termonuklir
HDE226868 yang bergerak membentuk sebuah cakram. Cygnus X-1 diperhitungkan
berukuran lebih kecil dari Bumi, tapi memiliki massa enam kali lebih besar dari
massa matahari. Bintang redup ini telah diyakini para ilmuwan sebagai lubang
hitam. Selain Cygnus X-1, Uhuru juga mendapatkan sumber sinar-X kosmis, yakni
Cygnus X-3 dalam konstelasi Centaurus dan Lupus X-1 dalam konstelasi bintang
Lupus. Dua yang disebut terakhir belum dipastikan sebagai lubang hitam,
termasuk 339 sumber sinar-X lainnya yang dideteksi selama 2,5 tahun masa
operasi Uhuru.
Eksplorasi
sumber sinar-X di kosmis masih dilanjutkan oleh satelit HEAO (High Energy
Astronomical Observatory) atau Einstein Observatory tahun 1978. Satelit ini
menemukan bintang ganda yang lain dalam konstelasi Circinus, yakni Circinus X-1
serta V861 Scorpii dan GX339-4 dalam konstelasi bintang Scorpius.
Tahun
1999, dengan biaya 2,8 milyar dollar, AS masih meluncurkan teleskop Chandra,
guna menyingkap misteri lubang hitam. The Chandra X-ray Observatory sepanjang
45 kaki milik NASA ini telah berhasil membuat ratusan gambar resolusi tinggi
dan menangkap adanya lompatan-lompatan sinar-X dari pusat galaksi Bima Sakti
berjarak 24.000 tahun cahaya dari Bumi. Mencengangkan, karena bila memang benar
demikian (lompatan sinar-X itu) menunjukkan adanya sebuah lubang hitam di
jantung Bima Sakti, maka teori Albert Einstein kembali benar. Ia menyatakan,
bahwa di jantung setiap galaksi terdapat lubang hitam!
“Dugaan
semacam itu sungguh sangat dekat dengan kenyataan,” kata Frederick Baganoff
yang memimpin penelitian, September 2001, kepada Reuters di Washington. Para
ilmuwan pun mulai melebarkan pencarian terhadap putaran gas di sekitar
tepi-tepi jurang ketiadaan ini, layaknya mencari pusaran air.
Pencarian lubang hitam dan kebenaran teori-teori yang mendukungnya memang masih
terus dilakukan para ahli, seiring makin majunya teknologi dan ilmu
pengetahuan. Pertanyaan kemudian, bila lubang hitam bertebaran di kosmis,
apakah nanti pada saat kiamat, monster ini pula yang akan melenyapkan
benda-benda jagat raya? (ron)
Bila
ditelusuri istilah lubang hitam, sebenarnya belum lah lama populer. Dua kata
ini pertama kali diangkat oleh fisikawan AS bernama John Archibald Wheeler pada
tahun 1968. Wheeler memberi nama demikian karena singularitas ini tak bisa
dilihat. Mengapa demikian? Penyebabnya tidak lain karena cahaya tak bisa lepas
dari kungkungan gravitasi singularitas yang maha dahsyat ini. Daerah di sekitar
singularitas atau lazimnya disebut sebagai Horizon Peristiwa (radiusnya
dihitung dengan rumus jari-jari Schwarzschild R = 2GM/C2 dimana G = 6,67 x
10-11 Nm2kg-2, M = kg massa lubang hitam, C = cepat rambat cahaya) menjadi
gelap. Itulah sebabnya, wilayah ini disebut sebagai lubang hitam.
Dengan
tidak bisa lepasnya cahaya, serta merta sekilas kita bisa membayangkan sendiri
kira-kira seberapa besar gaya gravitasi dari lubang hitam. Untuk mulai
menghitungnya, ingatlah bahwa cepat rambat cahaya di alam mencapai 300 juta
meter per detik. Masya Allah. Lalu, apalah jadinya bila benar sebuah wahana
buatan manusia tersedot ke dalam lubang hitam? Dalam hitungan sepersejuta detik
saja, tentunya dapat dipastikan wahana tersebut sudah remuk menjadi bubur.
Lebih dua ratus tahun silam, atau tepatnya pada tahun 1783. pemikiran akan
adanya monster kosmis bersifat melenyapkan benda lainnya ini sebenarnya pernah
dilontarkan oleh seorang pendeta bernama John Mitchell. Mitchell yang kala itu
mencermati teori gravitasi Isaac Newton (1643-1727) berpendapat, bila bumi
punya suatu kecepatan lepas dari Bumi 11 km per detik (sebuah benda yang
dilemparkan tegak lurus ke atas baru akan terlepas dari pengaruh gravitasi bumi
setelah melewati kecepatan ini), tentu ada planet atau bintang lain yang punya
gravitasi lebih besar. Mitchell malah memperkirakan di kosmis terdapat suatu
bintang dengan massa 500 kali matahari yang mampu mencegah lepasnya cahaya dari
permukaannya sendiri.
Lalu,
bagaimana sebenarnya lubang hitam tercipta? Menurut teori evolusi bintang
(lahir, berkembang, dan matinya bintang), buyut dari lubang hitam adalah sebuah
bintang biru. Bintang biru merupakan julukan bagi deret kelompok bintang yang
massanya lebih besar dari 1,4 kali massa matahari. Disebutkan para ahli fisika
kosmis, ketika pembakaran hidrogen di bintang biru mulai usai (kira-kira
memakan waktu 10 juta tahun), ia akan berkontraksi dan memuai menjadi bintang
maha raksasa biru. Selanjutnya, ia akan mendingin menjadi bintang maha raksasa
merah. Dalam fase inilah, akibat tarikan gravitasinya sendiri, bintang maha
raksasa merah mengalami keruntuhan gravitasi menghasilkan ledakan dahsyat atau
biasa disebut sebagai Supernova.
Supernova ditandai dengan peningkatan kecerahan cahaya hingga miliaran kali
cahaya bintang biasa kemudian melahirkan dua kelas bintang, yakni bintang
netron dan lubang hitam. Bintang netron (disebut juga Pulsar atau bintang
denyut) terjadi bila massa bintang runtuh lebih besar dari 1,4 kali, tapi lebih
kecil dari tiga kali massa matahari. Sementara lubang hitam mempunyai massa
bintang runtuh lebih dari tiga kali massa matahari. Materi pembentuk lubang
hitam kemudian mengalami pengerutan yang tidak dapat mencegah apapun darinya.
Bintang menjadi sangat mampat sampai menjadi suatu titik massa yang
kerapatannya tidak terhingga, yang disebut singularitas tadi.
Di
dalam kaidah fisika, besaran gaya gravitasi berbanding terbalik dengan kuadrat
jarak atau dirumuskan F ยต 1/r2. Dari formula inilah kita bisa memahami mengapa
lubang hitam mempunyai gaya gravitasi yang maha dahsyat. Dengan nilai r yang
makin kecil atau mendekati nol, gaya gravitasi akan menjadi tak hingga
besarnya.
Para
ilmuwan menghitung, seandainya benda bermassa seperti bumi kita ini akan
menjadi lubang hitam, agar gravitasinya mampu mencegah cahaya keluar, maka
benda itu harus dimampatkan menjadi bola berjari-jari 1 cm!
Fakta-fakta
Menarik mengenai BlackHole
Cahaya melengkung begitu dalam di dekat lubang hitam sehingga apabila Anda
berada dekatnya dan berdiri membelakangi, Anda akan dapat melihat berbagai
bayangan dari setiap bintang di jagat raya, dan dapat melihat bagian belakang
dari kepala Anda sendiri.
Di bagian dalam sebuah lubang hitam, ketentuan-ketentuan soal jarak dan waktu
berlaku kebalikan: seperti halnya saat ini Anda tidak dapat menghindar dari
perjalanan menuju masa depan, di dalam lubang hitam Anda tidak dapat mengelak
dari singularitas sentral.
Apabila Anda berdiri pada sebuah jarak aman dari lubang hitam dan melihat
seorang teman terjatuh ke dalamnya, dia akan terlihat bergerak melamban dan
hampir berhenti ketika sampai di tepian event horizon. Bayangan teman itu akan
memudar dengan sangat cepat. Sayangnya, dari sudut pandangnya sendiri dia akan
melintasi event horizon dengan aman, dan akan bertemu dengan ajalnya di
singularitas.
Lubang-lubang hitam adalah objek-objek yang paling sederhana di jagat raya.
Anda dapat menggambarkannya secara utuh dengan hanya mengetahui massa, olakan,
dan muatan listriknya. Sebaliknya, untuk melukiskan secara utuh sebutir debu
saja, Anda harus menjelaskan posisi dan kondisi seluruh atomnya.
Seperti yang ditemukan Hawking, lubang-lubang hitam dapat menguap, tetapi
dengan sangat lambat. Bahkan untuk seukuran massa sebuah gunung akan bertahan
selama sepuluh miliar tahun, dan untuk massa yang sama dengan matahari proses
penguapan akan selesai setelah 10^ 67 tahun.
Lubang hitam tidak meradiasikan cahaya, dan sebuah objek yang terjatuh ke
dalamnya tidak akan mampu lagi memancarkan cahayanya. Semua itu menjadikan
upaya mendeteksi lubang hitam akan sangat menantang. Hanya ketika sebuah lubang
hitam berada dalam wujudnya yang kembar dan efek gravitasi menyebabkan
pasangannya itu menghasilkan gas, kita dapat mendeteksi sinar-X. Sinar yang
berasal dari piringan-piringan di sekitar lubang hitam terlihat sangat mirip
dengan sinar yang berasal dari piringan-piringan di sekitar bintang-bintang
neutron.
Anda dapat pula menduga keberadaan sebuah lubang hitam di pusat sejumlah
galaksi apabila bintang-bintang bergerak sangat cepat di sekitar sejumlah objek
yang tidak terlihat.
Pernah adanya pendapat dari Prof. JownKin. H. Steel :
Bahwa “Suatu hari nanti Bumi Beserta WAKTU-WAKTU-nya akan terserap habis oleh
Monster Gravity ini”